logo enjoyquran

Anak Muda Ingin Hijrah dan Istiqomah? Begini Caranya

FENOMENA hijrah  tengah ramai terjadi di kalangan masyarakat Indonesia, salah satunya juga di kalangan anak muda. Secara harfiah, sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Fauzan Amin, salah seorang pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) sekaligus Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia Ustadz Fauzan Amin.

Hijrah memiliki pengertian yakni berpindah dari satu tempat ke tempat lain, namun kini seiring dengan berkembangnya zaman, pengertian hijrah ini juga menjadi luas.

“Hijrah itu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Rasulullah pindah dari Mekah ke Madinah. Kemudian istilah ini berkembag, ada beberapa ulama yang mengatakan, hijrah ini juga berarti berpindahnya dari kebatilan ke kebaikan. Di sini muncul istilah baru, contohnya pemuda hijrah, misalnya pemuda nakal lalu jadi baik. Awalnya enggak pernah ke mesjid, lalu berubah jadi rajin ke masjid,” jelas Ustadz Fauzan Amin saat dihubungi Okezone, melalui sambungan telepon baru-baru ini.

Menelisik fenomena hijrah yang tengah begitu ramai dilakoni para generasi muda. Apakah sebetulnya memang yang namanya hijrah itu gampang untuk dilakukan? Well, Ustadz Fauzan menyebutkan sebetulnya hijrah ini susah-susah gampang. Akan jadi lebih mudah jika memang bersamaan dengan hidayah yang datang dari Allah SWT.
 

Hijrah itu gampang-gampang susah. Gampang kalau bersamaan dengan hidayah. Ada keinginna untuk hijrah, bukan sekedar keinginan tapi juga hidayah dari Allah. Di sisi lain harus berusaha bisa hijrah, di sisi lain Allah SWT yang menentukan” tambahnya.

  Salat

Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Fauzan Amin juga memberikan sederet tips bagi para anak muda yang ingin berhijrah dan istiqomah di jalan Allah namun sekaligus bisa membentengi diri dari paham radikalisme.

Tips pertama adalah harus berlatih diri, diawali karena mengikuti orang lain atau idola itu boleh. Namun hakikatnya tetap harus berlatih diri, agar hijrah yang dilakukan itu semata-mata ikhlas hanya untuk Allah. Bukan sekedar gengsi atau ikut-ikutan tren, tapi benar-benar karena ingin kembali pada Allah SWT.

Kedua ialah menimba ilmu dari guru yang jelas kredibelitasnya. Selain belajar otodidak, belajar langsung dari guru juga sangat diperlukan, namun pilih guru yang kredibelnya jelas. Bisa juga dengan rajin mendatangi ceramah atau kajian, dengan catatan bukan kajian atau ceramah yang keliru. Kajian yang baik adalah ceramah yang tidak pernah mencaci maki, dan tidak memfitnah.

Tips terakhir ialah dengan tidak hanya mencari seorang guru. Ustadz Fauzan menyarankan, alangkah baiknya untuk mencari guru dan referensi sebanyak-banyaknya, agar tidak merasa benar seorang diri.

“Caranya gampang, cari guru jangan hanya satu. Kenapa? Agar kebenarannya tidak hanya satu, semakin banyak guru semakin banyak kebenaran yang didapat. Makin banyak pilihan, nanti bisa milih mana yang paling benar. Kalau cuma satu? Jadinya seolah-olah yang lain itu salah, hanya fanatisme buta. Belajar yang banyak, semakin banyak belajar agama maka orang itu makin terbuka, semakin toleran, semakin menghormati perbedaan. Paham kalau perbedaan itu biasa, cari banyak insight dan referensi sebanyak mungkin,” tutup Ustadz Fauzan.