بسم الله الرحمن الرحيمم
Saudaraku…
Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:
“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).
Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:
Hendaknya bagi seorang muslim untuk tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya:
Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama, di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang, yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.
Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاري
Dari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki, kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]
Atau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”
Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”
Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai Allah dan Rosul-Nya”
Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.
Ini adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama.
لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)
Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.
Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara yang tidak diketahui di balik itu semua.
Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.
Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya…
Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…
Akan tetapi dalam masalah beramal yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya:
Dan kita bisa melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti:
Dan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya:
Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.
Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.
Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:
فتشبهواان لم تكونوا مثلهم
ان تشابه بالكرام فلاح
“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”
Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:
قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،
”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]
Seandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang yang ia teladani tersebut.
Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.