Kedudukan Hubungan Darah Dalam Hukum Waris

Surat Al-Ahzab : 6

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

an-nabiyyu aulaa bil-mu`miniina min anfusihim wa azwaajuhuuu ummahaatuhum, wa ulul-ar-ḥaami ba'dhuhum aulaa biba'dhin fii kitaabillaahi minal-mu`miniina wal-muhaajiriina illaaa an taf'aluuu ilaaa auliyaaa`ikum ma'ruufaa, kaana żaalika fil-kitaabi masthuuroo

ARTI

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kitab (Allah).

Surat Al-Ahzab : 7

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

wa iż akhożnaa minan-nabiyyiina miiṡaaqohum wa mingka wa min nuuḥiw wa ibroohiima wa muusaa wa 'iisabni maryama wa akhożnaa min-hum miiṡaaqon gholiizhoo

ARTI

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh,

Surat Al-Ahzab : 8

لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ ۚ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا

liyas`alash-shoodiqiina 'an shidqihim, wa a'adda lil-kaafiriina 'ażaaban aliimaa

ARTI

agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka. Dia menyediakan azab yang pedih bagi orang-orang kafir.