Tafsir Ibnu Katsir
Surat Al-Anbiya
Tafsir ayat 10-15

Allah Swt. mengingatkan kemuliaan Al-Qur'an seraya menganjurkan kepada mereka untuk mengetahui kedudukannya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:


{لَقَدْ أَنزلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ}


Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kalian. (Al-Anbiya: 10) Ibnu Abbas mengatakan, makna Zikrukum ialah sebab-sebab kemuliaan bagi kalian.

Menurut Mujahid, maknanya ialah sebab-sebab yang membuat kalian terkenal. Sedangkan Al-Hasan mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah agama kalian.


أَفَلا تَعْقِلُونَ


Maka apakah kalian tiada memahaminya? (Al-Anbiya: 10) Maksudnya, memahami nikmat ini dan sebagai terima kasih kalian ialah kalian menerimanya dengan penerimaan yang baik. Makna ayat ini sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:


{وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ}


Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban. (Az-Zukhruf: 44) Adapun firman Allah Swt:


{وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً}


Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri-negeri yang zalim yang telah Kami binasakan. (Al-Anbiya: 11) Lafaz "kam" mengandung makna banyak. Seperti makna yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu:


{وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ}


Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. (Al-Isra: 17)


{فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ}


Berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya. (Al-Hajj: 45), hingga akhir ayat. Firman Allah Swt.:


{وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آخَرِينَ}


dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain. (Al-Anbiya: 11) Artinya, Kami gantikan mereka dengan kaum yang lain sesudah mereka binasa.


{فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا}


Maka tatkala mereka merasakan azab Kami. (Al-Anbiya: 12) Yakni mereka merasa yakin bahwa azab bakal menimpa mereka sebagai suatu kepastian sesuai dengan apa yang diancamkan oleh nabi mereka.


{إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ}


tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. (Al-Anbiya: 12) Maksudnya, mereka melarikan diri dari azab itu.


{لَا تَرْكُضُوا وَارْجِعُوا إِلَى مَا أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَاكِنِكُمْ}


Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediaman kalian (yang baik). (Al-Anbiya: 13) Ungkapan ini mengandung nada memperolok-olokkan mereka.

Yakni dikatakan kepada mereka dengan nada meremehkan, "Janganlah kalian lari terbirit-birit karena turunnya azab, kembalilah kalian kepada kenikmatan yang kalian bergelimang di dalamnya dan kepada kehidupan

serta tempat-tempat tinggal kalian yang baik-baik itu." Menurut Qatadah, ungkapan ini mengandung nada ejekan terhadap mereka.


{لَعَلَّكُمْ تُسْأَلُونَ}


supaya kalian ditanya. (Al-Anbiya: 13) Yaitu dimintai pertanggungjawaban tentang perbuatan kalian, apakah kalian telah mensyukuri nikmat-nikmat yang kalian peroleh?


{قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ}


Mereka berkata, "Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”(Al-Anbiya: 14) Mereka mengakui dosa-dosa mereka (saat azab akan menimpa mereka), tetapi nasi sudah menjadi bubur, hal itu tiada bermanfaat bagi mereka.


{فَمَا زَالَتْ تِلْكَ دَعْوَاهُمْ حَتَّى جَعَلْنَاهُمْ حَصِيدًا خَامِدِينَ}


Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi. (Al-Anbiya: 15) Yakni alasan itulah yang terus menerus mereka ucapkan hingga Kami tuai mereka sehabis-habisnya, dan binasalah mereka tanpa bisa bergerak dan bersuara lagi.