Tafsir Ibnu Katsir
Surat Al-Anbiya
Tafsir ayat 92-94
Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Qatadah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu. (Al-Anbiya: 92)
Yaitu agama kalian yang satu. Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa Allah menjelaskan kepada mereka hal-hal yang harus mereka hindari dan hal-hal yang harus mereka kerjakan.
kemudian Allah Swt. berfirman:
{إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً}
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu. (Al-Anbiya: 92) Yakni sesungguhnya tuntunan agama Islam ini adalah tuntunan bagi kamu sekalian. Firman-Nya:
{إِنَّ هَذِهِ}
Sesungguhnya (agama tauhid) ini. (Al-Anbiya: 92) Terdiri atas inna dan isim-nya, sedangkan firman-Nya:
{أُمَّتُكُمْ}
agama kalian ini. (Al-Anbiya: 92) berkedudukan menjadi khabar-nya inna, yakni sesungguhnya agama ini adalah syariat kalian yang Kujelaskan dan Kuterangkan kepada kalian. Firman-Nya, "Ummatan wdhidatan"
(sebagai satu agama) di-nasab-kan menjadi hal atau kata keterangan keadaan. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ}
Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al-Anbiya: 92) Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا}
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh. (Al-Mu’minun: 51) sampai dengan firman-Nya:
وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (Al-Mu'minun: 52) Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"نَحْنُ مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أَوْلَادُ عَلات دِينُنَا وَاحِدٌ"
Kami golongan para nabi adalah saudara-saudara lain ibu, sedangkan agama kami adalah satu.Makna yang dimaksud ialah menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, melalui syariat yang berbeda-beda yang dibawa oleh para rasul. Seperti yang dijelaskan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا}
Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al-Maidah: 48) Adapun firman Allah Swt.:
{وَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ}
Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. (Al-Anbiya: 93) Yakni pendapat di kalangan umat-umat itu berbeda-beda terhadap rasul-rasulnya; di antara mereka ada yang membenarkannya, ada pula yang mendustakannya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{كُلٌّ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ}
Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali. (Al-Anbiya: 93) Artinya kelak di hari kiamat, maka Allah akan memberikan balasan kepada masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya. Jika amalnya baik,
maka balasannya baik; dan jika amalnya buruk, balasannya buruk pula. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ}
Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedangkan ia beriman. (Al-Anbiya: 94) Yaitu kalbunya membenarkan dan anggota tubuhnya mengerjakan amal saleh.
{فَلا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ}
maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu. (Al-Anbiya: 94) semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا}
Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik. (Al-Kahfi: 30) Yakni usahanya alias amal perbuatannya tidak akan diingkari, melainkan diberi balasan;
dia tidak akan dianiaya barang seberat zarrah pun. Karena itulah dalam akhir ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ}
sesungguhnya Kami menuliskan amalnya itu untuknya. (Al-Anbiya: 94) Yaitu semua amal perbuatannya dicatat (di dalam kitab catatan amal masing-masing), maka tiada sesuatu pun dari amal perbuatannya yang tersia-sia.